Serba-Serbi Menulis : Awal Mula Menulis

Kali ini aku tidak akan menulis tentang Turki melainkan tentang kisahku di dunia literasi. Sebab,
beberapa hari yang lalu ada yang mengirimiku pesan di salah satu media sosial, untuk membuat konten tentang mengenai bagaimana perjalanan literasiku mulai dari awal mula aku menulis hingga sekarang ini.

Aku bukanlah seorang penulis hebat yang telah menerbitkan belasan hingga puluhan buku, ataupun yang telah memenangkan berbagai perlombaan dan juga penghargaan, bukan pula penulis dengan bukunya yang best seller dan digemari jutaan orang hingga karyanya diangkat ke layar lebar. Aku hanyalah seorang gadis yang gemar menulis dan menyukai dunia literasi.

Jika ditanya kapan aku mulai tertarik menulis mungkin ketika SD ya. Saat kelas 2 SD omku memberiku buku diary sebagai hadiah ulang tahunku saat itu. Dari buku diary itu, aku menuliskan kejadian selama di sekolah setiap harinya. Walau bisa dibilang masih kacau karena ceritanya tidak berurutan tapi aku begitu menikmatinya. Hingga akhirnya sekitar kelas 3 atau 4 SD aku mulai menulis cerita fiksi. Inspirasiku menulis berasal dari buku bacaan yang aku pinjam di perpustakaan sekolah. Sebuah novel dengan kertasnya yang mulai menguning berjudul "Ranglik (Pengarang Cilik)". Aku begitu menikmati bacaan itu dan berandai-andai jika aku melakukan hal yang sama. Akhirnya, setelah buku itu tuntas kubaca, aku segera mengambil kertas dan penaku. Kepalaku mulai menari-nari, mencari ide cerita yang akan aku tulis. Aku pun memutuskan untuk mengambil ide dari salah satu kejadian yang baru saja aku alami di sekolah. Tentu saja dengan nama tokoh yang disamarkan. Aku juga mulai menulis kumpulan cerpen dari kehidupanku sehari-hari, yang kutuliskan dalam sebuah buku tulis bergaris. 1-3 halaman untuk setiap ceritanya.

Kursus Bahasa Turki di TÖMER

Setibanya di Turki, kami-penerima beasiswa Pemerintah Turki- tidak langsung mengikuti kelas perkuliahan pada umumnya, melainkan kami diwajibkan mengikuti kursus Bahasa Turki terlebih dahulu selama 1 tahun mulai dari level A1-C1 dan ditambah Akademik Türkçe selama 1 bulan. Oleh sebab itu tentu saja kami terlambat lulus 1 tahun jika dibandingkan dengan teman-teman kami di Indonesia. Biaya kursus Bahasa Turki ini sudah ditanggung oleh Pemerintah Turki jika kalian mendapatkan beasiswa, namun jika ingin membayar sendiri (kuliah mandiri) biayanya cukup mahal, apalagi di Ankara. Tidak salah sih, karena memang kualitas pengajar dan sistem belajarnya juga bagus. Ya, saking bagusnya kami yang tinggal di Ankara sampai merasa kewalahan haha.

Oh ya, tempat kursus Bahasa Turki ini namanya TÖMER (Türkçe Öğrenim, Araştırma ve Uygulama Merkezi) yang artinya Pusat Pembelajaran, Penelitan, dan Aplikasi Bahasa Turki. Dimana TÖMER dapat ditemukan? Biasanya di setiap universitas terutama universitas negeri memiliki gedung TÖMER masing-masing. Ada juga TÖMER swasta yang biasanya diperuntukkan untuk non-pelajar, para pekerja asing, atau orang-orang yang menikah dengan penduduk Turki. "Aku mau kuliah mandiri tapi TÖMER dan universitasku di kota yang berbeda, apa boleh?" Tentu saja boleh, dan pelajar Indonesia disini juga banyak yang seperti itu.

Turkiye Burslari Scholarship : Sampai Jumpa, Indonesia!

Mengapa judul postingan sebelumnya sudah "Final" tapi masih ada lanjutannya? Sebab cerita perjuanganku mendapatkan beasiswa Turki memang telah selesai. Di postingan ini aku akan membahas tahap-tahap setelah mendapatkan LoA dari YTB. Di e-mail tersebut memang tidak dicantumkan di universitas mana aku akan kuliah, sebab pengumumannya akan bertahap. Kira-kira sekitar 2-7 hari setelah LoA diterima (normalnya seperti itu). Benar saja, 2 hari kemudian aku kembali mendapatkan e-mail yang menyatakan bahwa aku diterima di Gazi University di Ankara dengan program studi Jurnalistik. Pilihan pertama? Tidak, ini pilihan ketigaku. Meskipun begitu aku tetap bersyukur mungkin Ankara memang yang terbaik untukku. Dalam LoA juga dijelaskan tahap-tahap yang harus aku lakukan selanjutnya termasuk pembuatan Visa dan penandatangan LoA di Kedutaan Besar Turki di Jakarta. Tapi sayangnya mau tidak mau aku harus menunggu hingga perkemahan selesai.

Jumat siang, aku sudah tiba di kostanku untuk bersiap-siap sebab keluargaku akan menjemputku untuk pulang. Ya, sejak hari itu aku melepaskan almamaterku sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya. Terimakasih untuk satu minggunya yang cukup berkesan.

Turkiye Burslari Scholarship : Final

Halo kawan, maafkan diriku yang telah lama tidak menyapamu hingga satu tahun terlewati. Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi aku akan tetap melanjutkan kisahku dalam menggapai impianku untuk kuliah di luar negeri. Siapa tahu kau tertarik untuk membacanya dan membangkitkan motivasimu untuk menyusulku kemari.

Selepas seleksi interview, aku harus kembali ke rumah sebab seminggu lagi seleksi SBMPTN akan tiba. Aku tak boleh berleha-leha sebab ada mimpiku di Indonesia yang harus kugapai. Tapi entah mengapa mendekati hari seleksi SBMPTN tiba, motivasiku mulai menurun ada feelingku mengatakan bahwa aku tak akan lolos SBMPTN. Kian hari semakin kuat. Benar saja, satu bulan kemudian saat pengumuman SBMPTN tiba aku lagi-lagi dinyatakan tidak lolos. Tapi anehnya, tak ada lagi kesedihan dan tangisan. Seakan-akan aku tahu hal ini akan terjadi. Kali ini bukan aku yang kecewa, melainkan orang tuaku. Itulah yang membuatku merasa berat. Kali ini mama ikut turun tangan mencarikan informasi pendaftaran universitas jalur mandiri yang masih dibuka. Juga ikut menimbang-nimbang jurusan yang cocok dan bisa aku pilih. Aku jadi merasa tak tega. Aku berkata pada diriku sendiri, "Kalaupun aku tidak bisa masuk kuliah tahun ini aku siap kok untuk gapyear dan ikut seleksi SBMPTN lagi tahun depan." Tapi begitulah orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Hingga akhirnya mama menemukan informasi penerimaan mahasiswa baru di UNS jalur mandiri. Aku merasa mendapatkan kesempatan kedua. Motivasiku kembali lagi. Tak henti-hentinya aku berdoa agar bisa diterima di kampus impianku tersebut. Tidak, kali ini aku tak lagi memilih psikologi, sebab seleksi jalur mandiri ini berdasarkan nilai SBMPTN, yang mana aku mengikuti ujian SOSHUM saat SBMPTN kemarin. Tidak apa, aku masih punya peluang untuk diterima di jurusan Ilmu Komunikasi. Hanya perlu memasukkan beberapa data, proses selanjutnya yaitu menunggu. Mendekati hari kemenangan umat Muslim di seluruh dunia, pengumuman itu pun tiba. Jatuh. Terpuruk. Lagi. Aku kembali ditolak mentah-mentah oleh kampus impianku tersebut. Sudah tidak ada harapan lagi untukku diterima disana. Aku kembali terpuruk hingga suasana lebaran yang biasanya begitu istimewa buatku kini menjadi kelabu. Aku sempat mengurung diri tak ingin ikut pergi mudik bersama keluarga. Aku butuh waktu untuk sendiri. Disaat itulah mama dan papa yang berusaha menguatkanku, yang selalu memelukku tiba-tiba dan membisikkan kalimat-kalimat pembangkit semangatnya. Tapi aku begitu keras kepala, berusaha untuk tidak mendengarkan petuah mereka sebab aku begitu rapuh, tiap kali mendengar petuahnya aku tak mampu membendung air mata. Karena aku tahu, mereka juga sedih mereka juga kecewa. Tapi mereka berusaha untuk tegar dan kuat. Lebaran 2017 adalah saat-saat terberat tak hanya bagiku, tapi pasti juga bagi kedua orang tuaku. Sebab kutahu, sanak saudara akan menanyakan kabarku yang hendak kuliah dimana. Aku harus menjawab apa? Sementara pengumuman YTB entah tak jelas kabarnya.