Serba-Serbi Menulis : Awal Mula Menulis

Kali ini aku tidak akan menulis tentang Turki melainkan tentang kisahku di dunia literasi. Sebab,
beberapa hari yang lalu ada yang mengirimiku pesan di salah satu media sosial, untuk membuat konten tentang mengenai bagaimana perjalanan literasiku mulai dari awal mula aku menulis hingga sekarang ini.

Aku bukanlah seorang penulis hebat yang telah menerbitkan belasan hingga puluhan buku, ataupun yang telah memenangkan berbagai perlombaan dan juga penghargaan, bukan pula penulis dengan bukunya yang best seller dan digemari jutaan orang hingga karyanya diangkat ke layar lebar. Aku hanyalah seorang gadis yang gemar menulis dan menyukai dunia literasi.

Jika ditanya kapan aku mulai tertarik menulis mungkin ketika SD ya. Saat kelas 2 SD omku memberiku buku diary sebagai hadiah ulang tahunku saat itu. Dari buku diary itu, aku menuliskan kejadian selama di sekolah setiap harinya. Walau bisa dibilang masih kacau karena ceritanya tidak berurutan tapi aku begitu menikmatinya. Hingga akhirnya sekitar kelas 3 atau 4 SD aku mulai menulis cerita fiksi. Inspirasiku menulis berasal dari buku bacaan yang aku pinjam di perpustakaan sekolah. Sebuah novel dengan kertasnya yang mulai menguning berjudul "Ranglik (Pengarang Cilik)". Aku begitu menikmati bacaan itu dan berandai-andai jika aku melakukan hal yang sama. Akhirnya, setelah buku itu tuntas kubaca, aku segera mengambil kertas dan penaku. Kepalaku mulai menari-nari, mencari ide cerita yang akan aku tulis. Aku pun memutuskan untuk mengambil ide dari salah satu kejadian yang baru saja aku alami di sekolah. Tentu saja dengan nama tokoh yang disamarkan. Aku juga mulai menulis kumpulan cerpen dari kehidupanku sehari-hari, yang kutuliskan dalam sebuah buku tulis bergaris. 1-3 halaman untuk setiap ceritanya.



Novel "Cooking Show", 2011
Mungkin dari situ, mama mulai mengerti kegemaran baruku ini. Sekitar tahun 2009, kebetulan saat itu ada iklan Kelab Penulis Cilik di majalah Mentari, majalah yang jadi langganan kami selain Majalah Bobo. Sesuai dengan namanya, club ini diperuntukkan bagi anak-anak yang tertarik untuk menulis dan menerbitkan buku. Mama pun akhirnya mendaftarkanku di club tersebut. Pertemuan club ini dilaksanakan 1 minggu sekali setiap akhir pekan di Surabaya. Ya, aku dan mama harus bolak-balik Pandaan-Surabaya setiap minggunya. Melelahkan memang, tapi untungnya mama mendukung penuh minatku ini. Kau tahu? Aku menjadi peserta tertua dalam club ini! Ya, teman-temanku lainnya masih duduk di bangku 1-3 SD bahkan ada yang masih TK. Lewat kelab ini, akhirnya cerpen fiksi pertamaku yang berjudul "Selamat Jalan, Lerra" dimuat dalam buletin Kelab Penulis Cilik.

Apakah aku terus bertahan di Kelab Penulis Cilik? Tentu saja tidak. Terlebih karena aku juga mulai menginjak tahun terakhir di Sekolah Dasar, aku juga tak pernah menang dalam setiap lomba menulis yang diadakan Kelab Penulis Cilik. Seperti sia-sia menghabiskan waktu dan tenaga untuk ke Surabaya setiap minggunya. Tapi meski begitu aku tidak berhenti menulis. Diam-diam aku mulai menulis novel pertamaku di sela-sela waktuku yang mulai padat sebagai siswa tingkat akhir Sekolah Dasar. Ketika siswa lain sibuk belajar saat Ujian Nasional tengah berlangsung, aku malah sibuk menyelesaikan novel pertamaku setiap pulang ujian. Orang tuaku tak mengetahui hal ini, karena aku selalu bilang "Main game" ketika ditanya sedang apa, dan mereka percaya. Setelah rampung ujian, aku pun melengkapi persyaratan pengiriman naskah seperti biodata, sinopsis, dsb dan mengirimkannya ke salah satu penerbit yang sedang naik daun melalui e-mail.

Sekitar 3 bulan kemudian, aku mendapatkan kabar melalui e-mail bahwa naskahku tersebut ditolak! Sempat merasa sedih tapi berusaha aku abaikan. Aku mulai menulis lagi dengan tema yang lain, juga menulis naskah duo dan trio dengan teman-teman dunia mayaku. Sekitar 1 bulan aku tidak mengecek e-mail, hingga akhirnya saat itu aku iseng untuk mengeceknya kembali. Dan tidak disangka-sangka, aku mendapatkan e-mail masuk yang mengabarkan bahwa setelah dipertimbangkan kembali kakak redaksi memutuskan untuk menerima naskahku dan layak untuk diterbitkan! Tentu saja senangnya bukan main. Dan saat inilah aku baru menceritakannya pada mama dan papa. Aku menjelaskan bahwa selama ini aku berada di depan komputer tidak untuk main game tapi menulis naskah pertamaku ini. Akhir 2011 novel pertamaku yang berjudul "Cooking Show" pun mulai tersebar di rak-rak toko buku di seluruh Indonesia. Novel ini menjadi hadiah terindahku di akhir masa Sekolah Dasar.

0 Livers:

Posting Komentar